Opini

Rasululloh SAW dan Pondasi Sebuah Kota

Oleh : Ir. Saat Suharto Amjad (Founder BMT Tamzis, Pembimbing PBMT Travel)

Persaudaraan memang tak memandang ras atau kedudukan juga pangkat jabatan atau status sosial ekonomi, pada dasarnya saudara karena sesama rahimnya Siti Hawa atau saudara berdasarkan kasih sayang kemanusiaan yang terus mesti di simpul sebagai ajaran silaturahmi dalam Islam.

Banyak kisah tentang persauadaraan di sekitar kita. Contohnya mislanya ustad Nurhidayat (dari BMT Marhamah), bagaimana ia terlibat peluk hangat dan dialog mengalir dengan orang Pakistan yang mungkin saja bahasanya mereka tidak saling mengerti dan memahami bahkan tidak tahu namanya. Tapi, mereka bisa berinteraksi dan berdialog dengan bahasa lain yaitu bahasa persaudaraan sebagai sesama muslim.

Merujuk pada sejarah Islam awal, pernah ada sebuah kisah di masa Rasululloh SAW. Kisah tentang pendirian masjid yang awalnya adalah tanah wakaf dari Rasulullah SAW hasil dari pembelian atas tanah anak yatim (Sahal dan Suhail).

Saat pembangunan masjid berlangsung, semua berebut memberikan bantuan, ada yang memberikan bantuan makanan berupa kurma, ada yang tiba-tiba datang menyerahkan parfum untuk keharuman masjid, ada yang membawakan gelas-gelas berisi zam-zam. Semua tergerak menjadi satu tubuh, saling menolong saling membantu.

Ya, kisah tersebut menggambarjan bagaimana celupan keimanan yang langsung dibimbing oleh pribadi Agung Rasululloh SAW. Sebuah kisah yang berikutnya terus melahirkan banyak cerita-cerita luar biasa.

Kota Madinah

Kisah lain, seperti tatkala Rasululloh hendak masuk ke Madinah saat hijrah Rasululloh SAW. Suatu ketika di madinah Rasululloh berdiam selama empat hari, kemudian beliau menuju kota dan di perjalanan mendirikan shalat jumat dengan 100 sahabat di lokasi yang kini menjadi Masjid Jumah.

Baca juga :   Warisan Kolonialisme, Eksklusifitas dan Kebebasan Beragama di Indonesia

Mendengar Rasululloh dalam perjalanan tersbeut, penduduk Kota Madinah kemudian berdesakan menunggu dan semua ingin agar rumah merekalah yang mendapat kehormatan di singgahi Rasulullah.

Diceritakan semua sahabat berebut menyentuh, dan meminta agar Rasululloh SAW tinggal di rumah mereka.

Namun, Rasululloh menjawab dengan jawaban Rasululloh akan berhenti dan singgah di rumah dengan membiarkan ontanya Rasululloh SAW (Qoswa) berjalan dan Rasululloh akan beristirahat di rumah dimana Qoswa berhenti.

Dikisahkan kala itu, Rasululloh sedang dalam perjalanan dan tinggal selama beberapa hari sambil membangun masjid Quba. Salah satu yang disebut dibangun dengan azas taqwa oleh Al-Quran dan satu-satunya masjid yang mendapat kehormatan pahala senilai umrah bagi siapa saja yang memiliki wudhu dari rumah dan shalat dua rakaat di masjid itu.

Kembali ke kisah onta Qoswa Rasululloh SAW. Dicerikan onta tersbeut sempat menderum sejenak sebelum kemudian berdiri dan berjalan lagi. Kemudian setelah berjalan onta Qoswa berhenti di daerah banu Najjar.

Bila dirunut buyut-buyutnya Banu Najjar masih satu darah dengan Rasululloh, maka tentu saja hal itu disambut dengan sukacita.

Tak heran jika proses pembangunan masjid yang juga cikal bakal perdaban Islam saat dibangun di madinah tersebut mendapatkan sambutan antusias masyarakat.

Bahkan tatkala dua yatim (pemilik tanah) telah menyatakan harga atas tanahnya, semua muslim di madinah yang hadir bersikeras untuk membayar atas penjualan tanah tersebut. Tanah yang nantinya digunakan untuk masjid atau cikal bakal masjid dimana kemudian menjadi titik awal bahkan menjadi pusat peradaban Islam.

Kemudian proses pembangunan dilakukan tanah di kebun korma tersbeut dibersihkan, kemudian pohon-pohon kurmanya dijadikan tiang-tiang bangunan.

Baca juga :   Warisan Kolonialisme, Eksklusifitas dan Kebebasan Beragama di Indonesia

Bangunan seukuran 55 x 55 tersbeut awalnya dibangun dengan cetakan tanah lumpur. Akan tetapi pondasinya lah yang menjadikan istimewa karena pondasinya adalah ketakwaan kepada Allah.

Demikianlah kota yastrib menjadi bersinar karena masjid Nabawi dan karenanya dikenal sebagai madinaturrasul madinatul munawwarah.

Seruan Kebaikan

Pada hari hari awal inilah bergelombang-gelombang seruan Nabi dituturkan dari mulut ke mulut “Afsus salam” Sebarkanlah salam keselamatan, “wasillu Arham” Dan jalinlah silaturahmi, saling berbuat baiklah, “WA at’amutthoam” Dan pedulikanlah orang lain berbagilah, berilah makanan kepada orang lain dan tunduk lah bersholat diwaktu manusia sedang terlelap.

Kemudian kepercayaan yang tumbuh menguat itu diikat lagi oleh Nabi dengan melakukan kesepakatan-kesepakatan dengan seluruh eksponen masyarakat baik kaum Muhajirin, Anshor dan demikian pula kaum Yahudi. Inilah pilar kesetaraan yang kini sering dibahas para ahli sebagai dasar peradaban masyarakat (civil society).

Demikian lah kota penuh cahaya ini (Madinah al Munawwarah) dibangun dengan meletakkan terlebih dahulu pribadi pribadi, kemudian mengikatnya dalam kesepakatan dalam masyarakat.

Terlihat jelas lah pola individu – keluarga – masyarakat sebagaimana di BMT terlihat tulisan itu ada dalam logo air mengalir di logo MKU.

Platform kesepakatan dalam masyarakat yang termaktub dalam Piagam Madinah itu dilakukan pada tahun pertama hijrah nya Rasul, kemudian diikuti perintah mengurangi kemiskinan dengan di syariah kan nya zakat pada tahun kedua, sementara ekonomi Islam yang terkait pelarangan riba menjadi ayat yang diberikan kehormatan sebagai ayat terakhir yang turun di tahun ke 13 hijrah.

Baca juga :   Warisan Kolonialisme, Eksklusifitas dan Kebebasan Beragama di Indonesia

Sejak kemarin 25 September 22 jamaah umroh PBMT Travel telah diterima dengan baik oleh team handling dan muthawwif yang sangat berpengalaman dan telah menjadi mitra sejak tahun 2010.

Hari ini para jamaah itu telah segar dan mengenakan baju yang membuat mereka tampak internasional sekali, rasanya saya melihat india ada di Mas Umar, yakni jamaah dari BMT Marhamah, juga saya lihat Bangladesh ada di Mas Kukuh yang jika bertemu dengan beliau disini tidak lah terkesan bahwa sehari hari beliau bergelut dengan barang bekas di desa Balekambang Selomerto Wonosobo dan menjadi anggota BMT Melati.

Atau Pak Joko dan istri yang sukses setelah transmigrasi di Kalimantan dan sekarang membangun bisnis dan menjadi mitra BMT pula saya merasa ada Pattani atau Filipino ada pada diri mereka.

Penuh Cahaya

Lalu, saya melihat Indonesia, karena saya menjadi yakin bahwa jika di telusuri DNA mereka jangan jangan memang lah pergaulan internasional para pendahulu kita, sebagaimana di tunjukkan oleh para wali penyebar agama Islam yang berasal dari berbagai negara bahkan berbagai benua.

Maka, di dalam darah Indonesia mengalir pula darah dari pelbagai belahan dunia yang kemudian telah menjadi satu dan telah di ikat dalam kesepakatan kesepakatan sejak kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara dan kini berpadu dalam ke Indonesia an diikat oleh Pancasila.

Melihat para jamaah ini saya berharap Indonesia akan di penuhi cahaya jika para penduduk nya di celup dengan ke Imanan sebagaimana Madinah telah mencontohkan. Semoga, aamiin.

What's your reaction?

Related Posts

1 of 108

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *