Opini

Huruf-Huruf Besar Mbah Wahab Yang Tak Tertulis

Kredo Mbah Wahab “tiada waktu udzur dalam berjuang” merupakan jimat yang selalu melekat dan menjadi landasan bagi warga Nahdiyyah, pernyataan tersebut tentu tidak menyuguhkan narasi belaka.

Kita semua tahu, apa yang Mbah Wahab nyatakan ini berbanding lurus dengan kiprah beliau sebagai pelintas zaman dengan daya juang yang sangat luar biasa, baik dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia maupun menggerakan spirit islam moderat melalui Nahdhatul Ulama.

Mbah Wahab adalah sedikit dari Fundamentalis gerakan yang sangat sulit dikalahkan rekornya oleh siapapun.

Tapi terkadang, Mbah Wahab hanya dikenal seakan-akan tidak memiliki karya momumental tertulis sebagai buah dari pemikiran beliau.

Bahkan tidak sedikit yang berkesimpulan bahwa Mbah Wahab tidak memiliki karya tulis. Ini tidak mengherankan, sebab huruf-huruf Mbah Wahab “ditulis” tidak dalam bentuk aksara, namun kita bisa “membaca” huruf-huruf beliau melalui Taswirul Afkar, Nahdlatul Wathon, Syubbanul Wathon, Swara Nahdlotoel Oelama’ dan pastinya yang palipurna adalah Nahdlatul Ulama’ (NU).
Demikianlah sedikit dari bagian huruf-huruf besar Mbah Wahab yang tak tertulis.

Baca juga :   Mbah Wahab dan Soekarno Bagaikan Api dan Asap

Keilmuan-keilmuan beliau lebih banyak dituangkan dalam peristiwa-peristiwa yang penuh perjuangan bil af’al karena Mbah Wahab sadar bahwa perjuangan mbabat alas itu memang harus direbut dari akar, tidak cukup dengan retorika apalagi promosi.

Dan patut digarisbahawi sejak awal mbah Wahab dan Ulama-Ulama lainya tidak pernah bercita-cita mendirikan NU hanya untuk Indonesia, karena sejak awal NU berdiri sebagai metamorfosis dari Komite Hijaz, yakni untuk misi internasioanal dan untuk menyempurnakan peradaban.

Pada waktu itu, beliau mendorong para kiyai terkemuka Jawa Timur agar mengirimkan utusan sendiri ke Makkah untuk membicarakan masalah madzhab dengan Ibn Saud, dalam Jurnal PUSTAKA yang ditulis Umi Mashifah berjudul “Pemikiran Pembaharuan KH. Wahab Hasbullah Terhadap Lahirnya NU”.

Di dalam islam tidak ada kamus pensiun, karena nabi Muhammad pun tidak pernah meninggalkan umatnya dalam memperjuangkan Islam sampai akhir hayatnya.

Sebenarnya, tidak menjadi hal yang esensial apakah seseorang akan berjuang menggunakan pemikiran atau pedang.

Baca juga :   Ketum PBNU: Mari Membangun Narasi Sebagai Strategi

Namun, sudahkah kita benar-benar dapat meneladani kredo Mbah Wahab? Mengerti apa esensi perjuangan untuk Agama, Bangsa dan Negara? Atau jangan-jangan kita hanya generasi penikmat yang bergaya sebagai pejuang? Wallahu A’lam.

Oleh: Ahmad Safarudin (Pengurus PB PMII dan Aktivis NU DKI)

What's your reaction?

Related Posts

1 of 108

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *